Jawaban UAT Sistem Informasi Manajemen

  1. Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi? Jelaskan….

Pengembangan software atau disebut juga software engineering adalah suatu aplikasi sistematik, pendekatan kuantitatif untuk pengembangan, disiplin ,  operasi dan pemeliharaan dari software.

Dengan kata lain software engineering merupakan sebuah metodologi pengembangan perangkat lunak yang membahas semua aspek produksi perangkat lunak, dimulai dari tahap spesifikasi sistem sampai dengan tahap pemeliharaan sistem. Dapat dikatakan istilah tersebut menunjukkan pada sebuah pengembangan program yang dapat memberi kemudahan bagi pemakai dari berbagai jenis computer dalam menggunakan hardware.

Terdapat 2 hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan software, yaitu sebagai berikut:

  • Produk dan software. Pengendalian pengembangannya dengan System Development Life Cycle (SDLC) seperti model V,  waterfall, model spiral, prototying dan lain sebagainya.
  • Proses pengembangan, proses yang terdiri dari proses manajemen dan proses teknis. Prosesnya terdiri dari manajemen proyek, configuration manajemen, quality assurance management. Sedangkan proses teknik dapat berupa metode yang diterapkan pada tahap tertentu dalam pengembangan software yang di dalamnya terdiri dari metode analisism metode desainm metode pemrograman, dan metode testing.
  • Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan sistem informasi yaitu:
  • 1. Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen, yang akan menggunakan informasi dari sistem ini adalah manajemen, sehingga sistem harus dapat mendukung, kebutuhan yang diperlukan oleh manajemen.
  • 2. Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang besar, sistem informasi yang dikembangkan membutuhkan dana modal yang tidak sedikit, apalagi dengan digunakannya teknologi yang mutakhir.
  • 3. Sistem yang dikembangkan memerlukan orang-orang yang terdidik, sumber daya manusia merupakan faktor utama yang menentukan berhasil tidaknya suatu sistem, baik dalam proses pengembangannya, penerapannya, maupun dalam proses operasinya. Oleh karena itu orang yang terlibat dalam pengembangan maupun penggunaan sistem ini harus merupakan orang yang mengetahui tentang permasalahan yang ada dan terhadap solusi-solusi yang mungkin dilakukan.
  • 4. Memahami tahapan dan tugas-tugas yang harus dilakukan dalam proses pengembangan sistem.
    Proses pengembangan sistem umumnya melibatkan beberapa tahapan kerja dan melibatkan beberapa personil dalam bentuk suatu team untuk mengerjakannya.
  • 5. Proses pengembangan sistem tidak harus berurutan, misalnya di dalam pengembangan sistem, perancangan output merupakan tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan perancangan file.

Pengembangan sistem informasi merupakan proses pengembangan sistenm untuk menghasilkan sistem informasi yang menggunakan metodologi pengembangan sistem untuk dapat meningkatkan pengelolaan dan pengendalian unsur-unsur sistem informasi seperti sumber daya manusia, perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware), jaringan komunikasi, dan prosedur serta kebijakan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa software (perangkat lunak) merupakan bagian dari sistem informasi, sehingga pengembangan software merupakan bagian kecil daru suatu pengembangan sistem informasi

  1. Seringkali terjadi kesalahan besar yang berakibat fatal bagi organisasi, ketika mereka melakukan pengalihan atau konversi dari suatu sistem lama ke sistem yang baru. Jelaskan mengapa terjadi, dan jelaskan pula berbagai cara dalam mengkonversikan sistem dengan berbagai asumsinya agar kesalahan tersebut tidak terjadi, jelaskan.

Beberapa faktor yang diindikasikan sebagai penyebab kegagalan konversi dari sistem lama ke sistem yang baru dalam perusahaan atau organisasi yaitu:

  • Mayoritas orang pada umumnya memandang sistem informasi sebagai hal yang utama dalam suatu pengembangan informasi sehingga mereka melupalan komitmen dan konsistensi terhadap outputnya yang berbentuk informasi, produk dan respon yang baik terhadap pelayanan konsumen.
  • Sering adanya kekeliruan pemahaman bahwa pembangunan sistem informasi adalah tugas devisi Infomasi Teknologi saja sehingga diserahkan sepenuhnya kepada bagian ini, padahal divisi IT bukanlah bagian perumus strategi perusahaan.
  • Ahli sistem informasi sering lebih menekankan pada penggunaan teknologi IT terbaru serta kemajuan teknologi dan kemudahan yang dijanjikan dibandingkan penyusunan prosedur pengolahan data yang valid dan akurat. Hal tersebut menyebankan pengguna sering mengalami kesulitan dalam pengoperasian sistem informasi tersebut sehingga pengguna harus menyesuaikan dengan kemauan pembuat sistem.
  • Kurang efektinya interface sistem informasi sehingga mengakibatkan kurang menarik, kurang interaktif, dan sulit digunakan oleh pengguna karena interface sistem informasi hanya dibuat berdasarkan kemauan pembuat sistem saja.

Untuk mengurangi resiko kegagalan yang terjadi saat pengalihan atau konversi sistem, dikenal 4 metode konversi yang dapat dilakukan yaitu:

  1. Konversi Langsung (Direct Conversion/Plunge Strategy)

Konversi yang dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikan dengan sistem yang baru. Sistem ini mengandung resiko yang tinggi tetapi selain itu juga menjanjikan biaya yang murah. Konversi ini langsung mengimplementasikan sistem dan memutus serta meninggalkan sama sekali  sistem yang lama. Syarat dapat diimplementasikan sistem ini adalah sistem baru merupakan bagian kecil saja dari seluruh sistem dan sistem tersebut tidak menggantikan sistem lain.

2. Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi membutuhkan biaya yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua sistem sekaligus. Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa periode waktu. Dalam mode konversi paralel, output dari masing-masing sistem tersebut diperbandingkan, dan perbedaannya dilakukan rekonsiliasi.

3.  Konversi Bertahap (Phased Conversion)

Konversi dilakukan secara bertahap dengan menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Apabila tidak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada melakukan konversi langsung. Dengan metode phased conversion, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, dan secara perlahan menggantikan sistem lama. Konversi bertahap dapat menghindarkan risiko yang diakibatkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang agak longgar kepada pemakai untuk beradaptasi terhadap perubahan.

4.  Konversi Pilot (Pilot Conversion)

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor (lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu). Apabila konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah. Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang mencoba mengembangkan sistem baru. Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem, sedangkan metode pilot mensegmentasi organisasi. Jenis konversi pilot terdiri dari Direct Pilot Cut Over, dan Phased in Over.

  1. Apa yang saudara ketahui tentang ERP (renterprise resource planing) dan bagaimana implementasi system informasi yang berbasikan ERP, jelaskan.

ERP merupakan kepanjangan dari enterprise resource planning, definisinya adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan.

Implementasi sistem informasi berbasis ERP adalah suatu arsitektur software yang memiliki tujuan untuk memfasilitasi aliran informasi diantara seluruh fungsi-fungsi bisnis di dalam batas organisasi/perusahaan dan mengelola hubungan dengan pihak stakeholder diluar perusahaan.

Suatu sistem ERP  berada pada pusat server dan didistribusikan ke seluruh unit perangkat keras dan perangkat lunak modular, untuk dapat melayani dan berkomunikasi melalui jaringan area lokal. Sistem tersebut memungkinkan bisnis untuk merakit modul dari vendor yang berbeda tanpa perlu untuk menempatkan beberapa copy dari sistem komputer yang kompleks dan mahal di lokasi-lokasi yang tidak memerlukan.

Karateristik yang dimiliki oleh ERP adalah sistem ERP merupakan paket software yang di disain oleh client server dengan basis desktop atau web. Sistim ini mengintegrasikan mayoritas proses bisnis yang ada. Semua transaksi organisasi dapat diintegrasikan oleh sistem ERP. Data base skala enterprise digunakan oleh sistem ini untuk melakukan penyimpanan data. Sistem tersebut juga mengijinkan pengguna melakukan akses data secara real time.

Sistem Arsitektur ERP(ERP 3-tier) terdiri dari:

1. Presentation Layer

Presentation layer merupakan sarana bagi pengguna untuk menggunakan sistem ERP. Presentantaion layer dapat berupa sebuah aplikasi (sistem berbasis desktop) atau sebuah web browser (sistem berbasis web) yang memiliki graphical user interface (GUI). Pengguna dapat menggunakan fungsi-fungsi sistem dari sini, seperti menambah dan menampilkan data.

2. Application layer

Lapisan ini berupa server yang memberikan layanan kepada pengguna. Server merupakan pusat business rule, logika fungsi, yang bertanggung jawab menerima, mengirim dan mengolah data dari dan ke server database.

3. Database layer

Berisi server database yang menyimpan semua data dari sistem ERP. Database layer bertanggung jawab terhadap manajemen transaksi data.

Biasanya dalam penerapan suatu sistem informasi, langkah pertama adalah menganalisa ataupun memperbaiki bisnis proses yang sudah ada agar menjadi lebih baik. Oleh karena itu diperlukan seorang pimpinan perusahaan yang terbuka, yang dapat menerima perkembangan teknologi, yang memiliki visi misi masa depan bagi perusahaan untuk terus atau berkesinambungan dapat berkembang.
Sosialisasi terhadap user, diperlukan tindakan tegas dan contoh dari segenap direksi dan pimpinan manajerial untuk menerapkan sistem informasi secara menyeluruh .

Implementasi ERP dalam dunia bisnis sebagai berikut:

1. Best Practice dan Business Process Reengineering

Dalam praktiknya penerapan sistem ERP dirancang berdasarkan proses bisnis yang dianggap best practice, yaitu proses bisnis umum yang paling layak ditiru. Misalnya, bagaimana proses umum yang sebenarnya berlaku untuk pembelian (purchasing), penyusunan stok di gudang dan sebagainya.

Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari Sistem ERP, maka industri yang akan mengimplementasikan ERP harus mengikuti best practice process (proses umum terbaik) yang berlaku. Permasalahan yang sering terjadi bagi industri, adalah  bagaimana merubah proses bisnis perusahaan sehingga sesuai dengan proses kerja yang dihendaki oleh sistem ERP, atau merubah sistem ERP agar sesuai dengan proses kerja perusahaan hal ini terutama dilakukan untuk modul sumber daya manusia (SDM), karena banyak perusahaan di Indonesia memiliki peraturan dan kebijakan yang berbeda dibandingkan dengan proses bisnis pada modul SDM yang terdapat pada sistem ERP pada umumnya, contohnya SAP. Proses penyesuaian ini, dikenal juga sebagai proses Implementasi. Apabila dalam kegiatan implementasi diperlukan perubahan proses bisnis yang cukup mendasar, maka perusahaan harus melakukan Business Process Reengineering (BPR) yang dapat memakan waktu yang lama.

2. Modul-Modul yang Terdapat Pada Sistem ERP, beberapa modul yang terdapat dalam ERP adalah:

a. Financial, yang termasuk didalamnya adalah financial accounting, co controlling, enterprise controlling, investment management, dan treasury.

b. Distribution dan Manufacturing, yang meliputi modul logistic execution, sales distribution, material management, productin planning, quality management, dan project system.

Posted in Uncategorized | Comments Off on Jawaban UAT Sistem Informasi Manajemen

PENERAPAN OUTSOURCING PADA SISTEM INFORMASI DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam era persaingan yang semakin kompetitif pada saat ini, setiap organisasi ataupun perusahaan dituntut untuk mempunyai kinerja yang optimal. Tuntutan tersebut dapat dipenuhi dengan peningkatan manajemen organisasi atau perusahaan, termasuk di dalamnya proses inovasi yang berkesinambungan dengan didukung oleh penggunaan teknologi yang tepat. Salah satu bentuk penerapan teknologi adalah pengelolaan sistem informasi dalam aktivitas suatu organisasi atau perusahaan.

Penerapan sistem informasi dalam perusahaan dibuat untuk memberikan informasi yang bersifat holistik dari sudut padang perusahaan sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu sumber daya perusahaan yang dapat digunakan  secara langsung oleh jajaran eksekutif dan karyawan.  Dengan dukungan sistem informasi yang handal diharapkan dapat memenuhi harapan akan peningkatkan komunikasi,  dapat melakukan identifikasi trend historis lebih tepat, peningkatan efisiensi dan efektivitas perusahaan, rentang pengawasan yang lebih baik dan dukungan lebih besar untuk pengambilan keputusan manajemen dalam perusahaan.

Untuk memenuhi terhadap sistem informasi perusahaan yang baik, termasuk di antaranya dengan memperhatikan aliran data dan informasi yang berkesinambungan, perusahaan dapat memenuhi kebutuhan aplikasi sistem informasi dengan beberapa alternatif. Dalam mengembangkan sistem informasi tersebut, perusahaan harus memperhatikan dengan seksama aspek pembiayaan dan sumber daya manusia yang dimilikinya.

Pembangunan sistem informasi pada umumnya dapat dilakukan dengan cara outsourcing, insourcing maupun co sourcing. Masing-masing pendekatan ini mempunyai keunggulan dan kelemahan. Berikut akan dibahas mengenai masing-masing pendekatan tersebut dalam kaitannya dengan pembangunan sistem informasi dalam suatu organisasi atau perusahaan.

B. PERUMUSAN MASALAH

Paper ini akan membahas mengenai penerapan sistem informasi dengan salah satu pendekatan  outsourcing dalam pengembangannya. Selanjutnya akan dibahas mengenai penyebab mengapa perusahaan memilih menggunakan outsourcing dibandingkan pendekatan lainnya, dan basan mengenai keunggulan serta kelemahan oursourcing dan beberapa kunci sukses pelaksanaan outsourcing.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. SISTEM INFORMASI

Suatu sistem adalah sekelompok unsur yang saling berhubungan erat satu dengan yang lainnya  dan berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam sistem tersebut merupakan himpunan dari  unsur atau variabel yang terorganisir, saling tergantung satu dengan yang lainnya, saling berinteraksi dan terpadu.

Definisi sistem informasi menurut John F. Nash dan Martin B. Roberts

“Sistem informasi adalah suatu kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan menyediakan suatu dasar untuk pengambilan keputusan yang cerdik”

Menurut O’Brien, komponen dari suatu sistem informasi dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar komponen Information System Resources

Sumber JA O’Brian

Komponen sistem informasi adalah kombinasi dari integrasi yang terdiri dari unsur:

  • People Resources,  adalah sumber daya manusia yang membangun sistem atau yang menggunakan sistem dalam perusahaan meliputi system analyst, specialist, analist, programmer, supervisor,administrator, dan lain-lain.
  • Hardware Resources, adalah sumber perangkat keras yang mendukung suatu sistem informasi dalam perusahaan meliputi mesin seperti komputer, printer, optical scanner,  media, dan lain sebagainya.
  • Software Resources, yang terdiri dari kumpulan program-program seperti spreadsheet program, dan wordprocessing program.
  • Networks Resources, adalah jaringan-jaringan dalam perusahaan meliputi communication media, communications processors, network acces dan control software.
  • Data resources, adalah sumber- sumber data yang dikelola oleh perusahaan meliputi customer records, employee files dan inventory databases.

B. SISTEM INFORMASI DALAM DUNIA BISNIS

Penerapan sistem informasi dalam dunia bisnis tidak dapat dihindarkan lagi. Masing-masing perusahaan berlomba untuk mempunyai sistem informasi canggih yang dapat mensupport dalam operasional manajemen. Agar penerapan sistem informasi dapat efisien dan efektif, seyogyanya memperhatikan framework sistem informasi untuk dunia bisnis profesional seperti yang dikemukakan oleh O’Brian yaitu:

1. Foundation Concept

Adalah konsep dasar dari sistem informasi meliputi tren, peran dan komponen sistem informasi yang meliputi strategi yang digunakan untuk mengembangkan aplikasi e business untuk keunggulan kompetitif perusahaan.

2. Business Applications

adalah penggunaan sistem informasi untuk manajemen perusahaan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan dalam bidang e-business.

3. Development Process

Adalah bagaimana merencanakan, mengembangkan dan melakukan implementasi sistem insformasi untuk mendapatkan peluang-peluang dari e-business. Di dalamnya termasuk kegiatan perencanaan strategis dan pengembangan aplikasi.

4. Management Challenges

Adalah penggunaan IT yang dapat menjawab tantangan teknologi dan etika termasuk keamanan nya secara menyeluruh.

5. Information Technologies

Adalah pengembangan yang menggunakan hardware, software, jaringan telekomunikasi, teknologi , data manajemenm dan teknologi berbasis internet dalam perusahaan.

Gambar Framework for Business Profesional

Sumber O’ Brian dan Marakas

Sistem informasi bagi perusahaan diharapkan dapat mendukung strategi perusahaan dalam peningkatan keunggulan perusahaan dalam bidan core competence nya, mendukung efiseiensi dan efektifitas manajemen perusahaan, menjadi sumber yang akurat bagi pihak manajemen dalam mengambi keputusan yang bersifat strategik dan lain sebagainya.

Sebelum menentukan pendekatan yang tepat untuk pengembangan dan pembangunan sistem informasi, perusahaan harus memahi terlebih dahulu mengenai siklus dalam pengembangan sistem informasi. O’ Brian dan Marakas mengemukakan developing insformation system solution adalah sebagai berikut:

  1. Investigasi, yaitu proses melakukan identifikasi seperti apa sistem informasi yang dibutuhkan, rencana pengembangan proyek ke depan dan persetujuan dari manajemen perusahaan.
  2. Analyze, yaitu melakukan analisa kebutuhan informasi yang dibutuhkan perusahaan dan memperhatikan input, pross, outpu, penyimpanan dan kelangsungan pengawasan untuk pengembangan sistem.
  3. Design, yaitu perancangan sistem informasi dengan memperhatikan spesifikasi pengembangan dalam perangkat keras, perangkat lunak, SDM, sumber data dan dan produk informasi yang dibutuhkan
  4. Implement, yaitu implementasi sistem informasi meliputi pengembangan perangkat, sistem pengelolaan data, penyiapan serta pelatihan SDM.
  5. Maintain, yaitu pemeliharaan sistem informasi dan termasuk kegiatan evaluasi dan modifikasi sistem jika diperlukan.

Gambar proses atau siklus pengembangan informasi sistem

Sumber: O Brian dan Marakas

C. PENDEKATAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

Seperti dikemukakan sebelumnya, pengembangan sistem informasi dalam suatu perusahaan atau organisasi dapat dilakukan dalam tiga (3) cara, yaitu sebagai berikut:

1. Insourcing

Insourcing adalah pengerjaan proyek suatu perusahaan yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan sendiri.  Dalam hal pengembangan sistem informasi, pembangunannya menggunakan sumber daya manusia yaitu tenaga ahli atau spesialis dari dalam perusahaan. Pertimbangan perusahaan melakukan insourcing adalah dapat mengatur sendiri syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem informasi, meningkatkan partisipasi pekerja dalam menyusun sistem, waktu yang diperlukan relatif singkat dan pertimbangan anggaran biaya yang murah.

2. Outsourcing

Menurut definisi wikipedia Indonesia, oursourcing adalah pemindahan pekerjaan (operasi) dari suatu perusahaan ke pihak  (perusahaan) lain. Hal ini dilakukan untuk memperkcil biaya produksi atau untuk memusatkan perhatian kepada core competence perusahaan tersebut.

Dalam pengembangan sistem informasi, outsourcing dilakukan dengan pembelian suatu paket aplikasi IT yang dibuat oleh vendor dan siap untuk diaplikasikan dan digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan.

3. Co Sourcing

Co sourcing adalah pengembangan sistem informasi  dengan bekerjasama melalui pihak ketiga untuk melaksanakan pembangunan dan maintanance sistem informasi dalam suatu perusahaan. Pemilihan alternatif ini dikarenakan peningkatan aktifitas perusahaan dan keterbatasan sumber daya dalam perusahaan sehingga harus bekerjasama dengan pihak lain untuk yang ahli dalam bidang aplikasi sistem informasi untuk membangun bersama sistem informasi perusahaan

Pembahasan selanjutnya dalam paper ini lebih menekankan praktek outsourcing dalam pendekatan pengembangan sistem informasi.

D. PENGEMBANGAN OUTSOURCING

Beberapa bidang yang dapat dilakukan outsourcing oleh perusahaan antara lain yaitu pemeliharaan dan perbaikan teknologi informasi maupun sistem informasi, pelatihan karyawan mengenai kemampuan TI dan SI, pengembangan aplikasi software mapun hardware, konsultasi, pengelolaan sumber data, servis server, jaringan administrasi, servis desktop, layanan terhadap end user, dan outsourcing terhadap total teknologi informasi perusahaan

Gambar model-model outsourcing

Sumber www.pakpid.wordpress.com

Berdasarkan gambar di atas, outsourcing dapat dilakukan dalam beberapa model yaitu perusahaan dapat membeli aplikasi software yang sudah jadi, membeli aplikasi software dan melakukan modifikasi sesuai kebutuhan oleh vendor, membeli aplikasi software yang sudah jadi dan melakukan modifikasi sendiri, dan mengembangkan sistem atau software yang belum pernah ada sebelumnya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Gambar proses outsourcing oleh perusahaan

Sumber: Sumber www.pakpid.wordpress.com

Banyak perusahaan dan organisasi memilih melakukan pengembangan sistem informasi dengan cara outsourcing dibandingkan cara lainnya. Pemilihan tersebut dilandasi beberapa pertimbangan yang melihat bahwa outsoursing mempunyai lebih banyak keunggulan dibandingkan dengan kelemahan yang dimilikinya.

Keunggulan outsourcing dibandingkan pendekatan lain yaitu:

  1. Perusahaan tidak perlu melakukan investasi yang mahal di bidang teknologi untuk mengembangkan sistem informasi perusahaannya. Pembangunan SI dapat diserahkan kepada vendor yang mempunyai core competence di bidang IT dan mempunyai pengetahuan dan pengelaman di bidangnya. Hal tersebut juga menghindarkan resiko perusahaan untuk mengeluarkan biaya tambahan karena kegagalan implementasi SI.
  2. Perusahaan dapat berkonsentrasi untuk menjalankan core bisnisnya, bersamaan waktunya dengan proses instalasi sistem informasi. Sehingga tidak mengganggu rutinitas kegiatan bisins perusahaan atau kegiatan organisasi.
  3. Jaminan mutu kualitas dari hasil aplikasi sistem informasi yang dibangun oleh vendor yang berpengalaman.
  4. Aplikasi sistem informasi yang dibangun dapat sesuai dengan harapan manajemen perusahaan, bahkan dapat menjadi competitive advantage dibandingkan dengan perusahaan lain dengan kemampuan vendor untuk membangun sistem dengan teknologi terbaru disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Kondisi tersebut diperkuat dengan alasan yang dikemukakan oleh O’Brian (2007) mengenai 10 pertimbangan alasan perusahaan memilih outsourcing sebagai berikut:

  1. Mengurangi dan mengendalikan biaya operasioanal. Pemilihan outsourcing memang membutuhkan biaya yang mahal pada awal kontraknya, tetapi pertimbangan resiko yang akan ditanggung oleh perusahaan lebih kecil dibandingkan dengan membangun sendiri dengan kemampuan kurang akan mengakibatkan permasalahan di kemudian hari dan berdampak pada segi pembiayaan perusahaan.
  2. Meningkatkan fokus perusahaan pada kegiatan utama usahanya tanpa dibebani permasalahan pengembangan sistem informasi.
  3. Mendapatkan akses terhadap sistem informasi premium atau kelas dunia bagi penerapan sistem informasi di perusahaannya.
  4. Sumber daya manusia dalam perusahaan dapat lebih fokus melakukan pekerjaan pada kegiatan utama perusahaan tanpa dibebani kegiatan pengembangan sistem informasi. Tentu saja hal ini diharapkan akan meningkatkan produktifitas perusahaan.
  5. Memberi jalan keluar terhadap permasalahan  ketidak tersediaan sumber daya dari perusahaan yang ahli dalam pengembangan sistem informasi, sehingga dapat mengurangi resiko salah penerapan sistem informasi.
  6. Menunjang akselerasi tujuan perusahaan untuk mempercepat mendapatkan keuntungan/ benefit dengan penerapan sistem informasi yang sesuai.
  7. Menghindarkan dari kendali internal mengenai tidak berfungsinya sistem informasi karena penerapan sistem informasi yang salah atau gagal.
  8. Peningkatan benefit perusahaan akan menyebabkan perusahaan dapat meningkatkan pertumbuhan modal usaha.
  9. Berbagi resiko terhadap implementasi sistem informasi antara perusahaan dan vendor. Kesalahan implementasi tidak ditanggung penuh oleh perusahaan saja, oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik dalam proses perencanaan sistem informasi antara perusahaan dan vendor.
  10. Perusahaan dapat mengontrol pemasukan dan pengeluaran kas dengan bantuan sistem informasi yang tepat.

Tidak dipungkiri bahwa outsourcing juga mempunyai beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya. Kelemahan outsourcing antara lain:

  1. Pelanggaran kontrak kerja oleh vendor lebih banyak akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.  Misalnya hasil aplikasi tidak sesuai dengan harapan perusahaan menimbulkan kerugian biaya dan waktu.
  2. Perusahaan akan kehilangan kontrol terhadap aplikasi sistem informasi yang dibangun oleh vendor apabila terjadi ganguan pada sistem informasi yang sangat penting bagi perusahaan. Penanganan ganguang yang hanya dapat diperbaiki oleh vendor mengakibatkan ketergantungan bagi perusahaan.
  3. Perusahaan lain dapat meniru sistem informasi yang dikembangkan oleh vendor yang sama.

Untuk mengurangi resiko perusahaan yang diakibatkan karena vendor yang tidak bonafide dan tidak mempunyai itikad baik,nO Brian (2007) menyarankan agar perusahaan memperhatikan 10 faktor dalam memilih vendor sistem informasi yaitu sebagai berikut:

  1. Komitmen terhadap kualitas, yaitu aplikasi sistem informasi yang dihasilkan oleh vendor harus mempunyai berkualitas bagus dan dapat dilakukan pengembangan, dapat diandalkan oleh perusahaan, mudah dipelajari dan dapat digunakan oleh pengguna.
  2. Harga yang compatible, yaitu harga yang sesuai untuk sistem informasi yang berkualitas yang diinginkan oleh perusahaan.
  3. Reputasi vendor yang baik akan mempengarui perusahaan dalam memilih pengembang. Semakin berpengalaman vendor dan mempunyai reputasi yang baik, maka kecenderungan perusahan memilih semakin tinggi.
  4. Fleksibilitas syarat kontrak, yaitu perusahaan akan cenderung memelih vendor yang tidak kaku terhadap syarat-syarat kontrak dalam mengembangkan sistem informasinya sehingga hasil aplikasi yang diharapkan dapat optimal sesuai kebutuhan pengguna.
  5. Lingkup sumber daya vendor yang ahli dalam bidang IT dan sistem informasi.
  6. Kemampuan menambahan nilai lebih/ value yang diterima oleh perusahaan dari penerapan sistem informasi yang dapat diterapkan oleh vendor.
  7. Kesesuaian atau kesepahaman terhadap nilai-nilai kultural antara perusahaan dan vendor yang hendak mengembangkan sistem informasi perusahaan. Dengan kesesuaian ini diharapkan vendor memahami spirit dalam perusahaan dan penerapan sistem informasi tidak akan bertentangan dengan hal tersebut.
  8. Hubungan yang berkelanjutan, yaitu perusahaan mengharapkan hubungan berkelanjutan kaitannya dengan maintanance sistem informasi yang dikembangkan oleh vendor.
  9. Lokasi menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan vendor, misalnya kedekatan lokasi perusahaan dan kantor vendor sehingga dapat mempermudah komunikasi.

Dalam bukunya O’Brian (2007) juga memberikan tips-tips terhadap 10 faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai kesuksesan pelaksanaan outsourcing, yaitu sebagai berikut:

  1. Memahami tujuan perusahaan dan sasaran yang hendak dicapainya.
  2. Pengalihdayaan tersebut mempunyai visi dan rencana strategis yang jelas sehingga tidak menghamburkan anggaran karena salah sasaran.
  3. Pemilihan vendor yang tepat.
  4. Hubungan yang baik antara vendor dan perusahaan tidak saja pada saat proyek pengembangan tetapi juga untuk selanjutnya, hal ini berkaitan dengan maintanance sistem informasinya.
  5. Kontrak kerja antara vendor dan perusahaan yang terstruktur, sehingga jelas pembagian antara hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak.
  6. Keterbukaan informasi antara vendor dan perusahaan, terutama dalam hal perencanaan sistem informasi. Misalnya perusahaan mengemukakan kebutuhan informasi yang dibutuhkan, dan vendor melakukan disain sistem informasi yang tepat terhadap kebutuhan tersebut.
  7. Dukungan dan keterlibatan dari jajaran eksekutif perusahaan dalam pengembangan sistem informasi.
  8. Memperhatikan terhadap isu atau masalah yang berkembang pada saat proses pembuatan SI, sehingga dalam pengembangan sistem informasi juga dapat menyesuaikan dengan kondisi perusahaan yang berkembang.
  9. Ketersediaan pendanaan yang dialokasikan khusus untuk pengembangan sistem informasi, sehingga dapat dihindarkan terjadinya kekurangan dana pada masa pembangunan SI.
  10. Menggunakan tenaga ahli yang berpengalaman untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan

III. KASUS IMPLEMENTASI OUTSOURCING DI INDONESIA

Berkembangnya pendekatan outsourcing juga menular pada bisnis telekomunikasi di Indonesia. Beberapa provider telekomunikasi telah melirik penerapan outsourcing pada bidang teknologi informasi. Seperti berita yang dikutip Deddy Sinaga dari www.tempointeraktif.com tanggal 12 April 2010, yang bertajuk “Operator Telekomunikasi Bidik Outsourcing”, Darmesh Malhotra, yang menjabat sebagai Head of services Sub region Indonesia dari perusahaan Nokia Siemens Network pada kesempatannya di Jakarta mengemukakan bahwa dua (2) tahun ke depan model outsourcing akan menjadi mayoritas di Indonesia. Beberapa model bisnis telekomunikasi di masa depan diperkirakan akan berubah drastis. Alih-alih membeli dan mengoperasikan infrastruktur sendir, operator akan lebih beralih pada outsourcing.

Malhotra mengatakan, pada era 2002-2007 operator lebih berfokus pada modal dan pengeluaran untuk operasioanal dengan pemasukan minimal. Hal tersebut berkaitan dengan investasi teknologi yang dilakukan untuk mengembangkan jaringan telekomunikasi seluler oleh provider. Setelah era tersebut, operator kini akan lebih menekankan pada peningkatan pemasukan dengan mengurangi kapital dan ongkos operasional.

Nokia Siemens Network adalah salah satu vendor yang menyajikan outsourcing untuk infrastruktur dan operasional dengan salah satu layanannya yang bernama Managed Services. Managed Services sudah memberikan pelayanan terhadap 7.000 situs BTS sejak tahun 2008. 17 perjanjian kerjasama dengan pihak ke tiga sudah dilakukan perusahaan ini dalam melakukan outsourcing.

Berdasarkan data perusahaan, Managed Services sudah mempunyai 170 kontrak kerja dengan perusahaan-perusahaan kelas dunia. Layanan outsourcing adalah penyumbang terbesar kedua untuk pemasukan perusahaan Nokia Siemens Network yaitu sebesar 45% dari total pemasukan perusahaan. Dengan kondisi tersebut, Darmesh Malhotra optimis bahwa pada masa yang akan datang outsourcing akan semakin meningkat.

IV. KESIMPULAN

Keputusan penggunaan salah satu pendekatan dalam mengembangkan sistem informasi dalam suatu organisasi atau perusahaan bisnis yaitu outsourcing ataupun insourcing dan cosourcing tergantung pada kondisi perusahaan dengan memperhatikan beberapa aspek yaitu ketersediaan sumber daya manusia, ketersediaan dana dan kompleksitas sistem informasi yang dibutuhkan.

Pemilihan outsourcing sebagai salah satu pendekatan dalam mengembangkan sistem informasi perusahaan karena dianggap mempunyai keunggulan lebih baik dibandingkan pendekatan lainnya. Kelebihan dari outsourcing antara lain pendanaan yang terukur karena pengembangan sistem informasi yang dilakukan oleh vendor yang berpengalaman di bidang teknologi informasi dan sistem informasi, mengurangi resiko kegagalan penerapan sistem informasi yang keliru akibat keterbatasan sumber daya internal perusahaan dan resiko pembiayaan yang lebih besar karena kegagalan implementasi sistem informasi.

Pendekatan outsourcing juga mempunyai beberapa kelemahan seperti ketergantungan perusahaan pada vendor terutama pada sistem informasi yang utama bagi perusahaan apabila mengalami gangguan dan kelemahan akibat kontrak kerja bagi perusahaan.  Untuk mengantisipasi kelemahan-kelemahan pendekatan outsourcing, perusahaan harus memperhatikan 10 kunci sukses outsourcing oleh O’Brian sebelum menentukan dan menerapkannya dalam perusahaan. Selain itu kehati-hatian dalam memilih dan menentukan vendor juga merupakan salah satu faktor yang mendorong kesuksesan pelaksanaan outsourcing. Oleh karena itu dalam pemilihan vendor juga harus diperhatikan dengan seksama seperti memperhatikan faktor reputasi vendorm, harga, ketentuan kontrak yang fleksibel bagi perusahaan, kesinambungan hubungan dan kemampuan value added oleh vendor kepada perusahaan.

Perkembangan bisnis outsourcing pada masa akan datang telah menarik beberapa perusahaan besar untuk bergerak di bidang tersebut. Salah satunya adalah Managed Service salah satu devisi dari perusahaan Nokia Siemens Network yang bergerak dalam servis telekomunikasi seluler. Berdasarkan data perusahaan, Manages Services memberikan kontribusi pemasukan yang terbesar ke dua yaitu 45% bagi perusahaan sejak tahun. Perkembangan tersebut dapat dikatakan sangat pesat karena Managed Services baru beroperasi sejak tahun 2008.  Perusahaan sangat optimis dengan peluang berkembangnya outsourcing di Indonesia pada masa yang akan datang.

IV. DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI

O’Brien, J and Marakas, G. 2008. Management Information System. 8 th edition. Mc.Graw .Hill International Edition

Sutabri T, 2005. Sistem Informasi Manajemen. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Pak Pid. 2010. Selfsourcing, Insourcing dan Outsourcing. http://pakpid.wordpress.com/2010/01/05/self-sourcing-in-sourcing-and-out-sourcing

Raharjo. 2007. Mengusung IT Outsourcing. http://rahard.wordpress.com/2007/12/06/mengusung-it-outsourcing/#comment-66200

Dyah.2007. Pengantar Sistem Informasi. http://blog.its.ac.id/dyah03tc/2007/10/24/pengantar-sistem-informasi/

Ferry Tikos . 2010. Selfsourcing, Insourcing dan Outsourcing http://ferry1002.blog.binusian.org/?p=128

http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2010/04/12/brk,20100412-239645,id.html

Deddy Sinaga. 2010. Operator Telekomunikasi Bidik Outsourcing. http://www.tempointeraktif.com

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Hello world!

Welcome to Blog Mahasiswa MB IPB. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Blog Mahasiswa MB IPB

Posted in Uncategorized | 1 Comment